• Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
Wednesday, October 28, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Cerdas UMSU
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
No Result
View All Result
Cerdas UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Eskalasi Saudi–Houthi 2026: Ketika Langkah Defensif Memicu Perang Baru

by Admin Website
October 27, 2026
in Artikel, Dosen Menulis
0
Gambar ilustrasi.

Gambar ilustrasi.

0
SHARES
5
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter
Oleh: Dr. Nalil Khairiah, S.Ip., MPd.

Dosen FISIP UMSU, Analis Kebijakan Publik dan Studi Keamanan (Studi Keamanan)

 

Ukuran keberhasilan sebuah langkah keamanan bukanlah seberapa kokoh ia membentengi diri, melainkan bagaimana lawan menafsirkannya keesokan harinya. Selama Riyadh dan Houthi mengukur keamanan semata-mata dengan kekuatan senjata maka setiap benteng yang dibangun satu pihak hanya akan menjadi alasan bagi pihak lain untuk mengasah senjata yang lebih tajam.

 

Pendahuluan

Arab Saudi memang punya dana berlimpah untuk membeli jet tempur canggih, sistem pertahanan Patriot, hingga menyewa konsultan militer terbaik dunia. Namun, besarnya anggaran tersebut gagal membeli hal paling mendasar: rasa aman. Terbukti pada Oktober 2026, serangan gelombang rudal dan drone Houthi menghantam tiga bandara strategis Saudi dalam sepekan—menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai lebih dari 370 orang (ABC News, 2026). Serangan pada 10 Oktober di Bandara King Khalid, Riyadh, bahkan menjadi kejadian paling mematikan bagi kerajaan tersebut dalam satu dekade terakhir (Al Jazeera, 2026b).

Tragedi krusial ini dijelaskan bukan sekadar karena jumlah korbannya, melainkan akibat pemicunya. Gencatan senjata yang berlangsung sejak April 2022 gagal akibat langkah defensif pemerintah Yaman. Pada 13 Juli 2026, pasukan pemerintah dukungan Riyadh mengebom landasan Bandara Sana’a untuk mencegah keberadaan pesawat Iran (Sela-Eitam dkk., 2026; Weinthal, 2026). Langkah pencegahan yang dilakukan Riyadh ini menilai Houthi sebagai deklarasi perang terbuka dan menandai berakhirnya gencatan senjata.

Namun, kejadian Juli 2026 hanyalah percikan di atas tumpukan bara lama. Akar ketegangan Arab Saudi dan Houthi dapat ditelusuri jauh ke belakang. Gerakan Houthi—secara resmi bernama Ansar Allah—lahir di Provinsi Saada, Yaman Utara, pada tahun 1990-an sebagai gerakan kebangkitan komunitas Zaidi yang merasa terpinggirkan secara politik, ekonomi, dan keagamaan, termasuk dengan menguatnya pengaruh dakwah Salafi yang didukung Saudi di wilayah mereka (Salmoni dkk., 2010).

Antara 2004 dan 2010, gerakan ini terlibat dalam enam putaran perang melawan pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh. Pada tahun 2009, Arab Saudi bahkan terlibat langsung dalam pertempuran setelah milisi Houthi melintasi perbatasan di Jizan. Sejak saat itu, Riyadh memandang Houthi bukan sekadar pemberontak lokal, melainkan ancaman nyata di halaman belakangnya sendiri, mengingat kedua negara berbagi perbatasan darat sepanjang sekitar 1.300 kilometer.

Gelombang Musim Semi Arab pada 2011 memaksa Saleh mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abd Rabbuh Mansur Hadi, melalui inisiatif Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang disponsori Riyadh. Namun, transisi politik itu rapuh. Memanfaatkan kekecewaan publik atas pencabutan subsidi bahan bakar, Houthi—yang kala itu bersekutu secara taktis dengan bekas musuhnya, Saleh—merebut ibu kota Sana’a pada September 2014 dan memaksa Hadi melarikan diri. Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab melancarkan Operasi Decisive Storm (Badai Penghancur) dengan tujuan memulihkan pemerintahan Hadi dan, yang lebih mendasar, mencegah lahirnya kekuatan bersenjata yang dekat dengan Iran tepat di perbatasan selatannya (Darwich, 2018).

Perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat justru berlarut-larut. Serangan udara dan blokade koalisi memperparah krisis kemanusiaan yang oleh PBB disebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia, sementara Houthi—dengan teknologi rudal dan drone yang diduga kuat berasal dari Iran—membalas dengan menyerang wilayah Saudi, termasuk serangan terhadap fasilitas minyak Abqaiq dan Khurais pada September 2019 yang diklaim oleh Houthi (NBC News, 2019). Dimensi regional inilah yang membuat konflik Yaman kerap dibaca sebagai perang proksi antara Riyadh dan Teheran (Juneau, 2016).

Gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022, disusul perundingan langsung Saudi–Houthi dengan mediasi Oman pada 2023, sempat memberi harapan perdamaian (UN News, 2022). Akan tetapi, serangan Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah sejak akhir 2023 menunjukkan bahwa kapasitas militer gerakan ini justru terus tumbuh, sementara saling curiga di antara kedua pihak tidak pernah benar-benar padam. Dalam konteks ketidakpercayaan yang mengakar inilah setiap langkah “defensif” mudah ditafsirkan sebagai ancaman.

Gambar 1. Kronologi akar konflik Arab Saudi–Houthi (2004–2026)
Sumber: diolah penulis dari berbagai sumber

Berangkat dari latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis eskalasi konflik Arab Saudi–Houthi pada periode Juli–Oktober 2026 dengan menggunakan teori dilema keamanan (security dilemma). Teori yang pertama kali dirumuskan oleh John H. Herz (1950) dan dikembangkan oleh Robert Jervis (1978) ini berangkat dari asumsi bahwa dalam sistem yang anarkis, upaya suatu aktor untuk meningkatkan keamanannya—misalnya dengan menambah persenjataan atau melancarkan serangan pencegahan—cenderung dibaca sebagai ancaman oleh pihak lain. Pihak lain kemudian merespons dengan langkah serupa, sehingga terbentuk spiral aksi–reaksi yang pada akhirnya membuat semua pihak justru semakin tidak aman.

Secara khusus, tulisan ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan bagaimana langkah yang diniatkan defensif oleh Riyadh dan sekutunya ditafsirkan sebagai agresi oleh Houthi; (2) mengurai mekanisme spiral aksi–reaksi yang mendorong eskalasi dari pengeboman bandara hingga blokade jalur pelayaran dan serangan terhadap infrastruktur ekonomi Saudi; (3) menunjukkan bagaimana asimetri biaya antara rudal pencegat dan drone murah memperdalam dilema keamanan tersebut; serta (4) merumuskan rekomendasi kebijakan untuk memutus spiral konflik melalui kombinasi penangkalan (deterrence) dan penenteraman (reassurance).
Empat Dimensi Dilema Keamanan

Untuk memahami dinamika konflik Saudi–Houthi penulis menggunakan kerangka analisis melalui empat pisau teoritis:

• Dilema Interpretasi dan Respons (Booth & Wheeler, 2008)

Konflik bermula dari kesalahan menafsirkan niat lawan (dilemma of interpretation), yang diikuti oleh pemilihan tindakan tegas namun konfliktual (dilemma of response). Akibatnya tercipta security paradox—semua pihak bertindak atas nama keamanan, tetapi berakhir dalam situasi yang justru semakin tidak aman.

Bagi Riyadh dan pemerintah Yaman, rencana pendaratan pesawat Iran di Sana’a dibaca sebagai jalur pasokan senjata, sehingga pengeboman landasan pada 13 Juli 2026 diniatkan sebagai pencegahan. Houthi menafsirkannya sebaliknya: upaya memutus akses udara ibu kota yang mereka kuasai, alias deklarasi perang. Pada tahap respons, kedua pihak memilih opsi paling konfliktual. Houthi tidak menempuh jalur protes melalui mediasi Oman, tetapi mengumumkan blokade laut terhadap Saudi (Al Jazeera, 2026a) dan menyerang bandara-bandara Saudi pada Oktober. Koalisi lalu membalas dengan menggempur fasilitas rudal Houthi (Al Jazeera, 2026d). Semua pihak merasa membela diri, tetapi hasilnya adalah security paradox: serangan paling mematikan atas Riyadh dalam satu dekade.

• Dunia ‘Ganda Berbahaya’ / Doubly Dangerous World (Jervis, 1978)

Yakni situasi di mana strategi menyerang jauh lebih menguntungkan daripada bertahan (offense advantage), serta sulitnya membedakan antara postur pertahanan (defensive) dan persiapan serangan (offensive). Rudal balistik dan drone murah memberi keunggulan ofensif nyata bagi Houthi.

Merujuk Jervis, syarat tersebut terpenuhi. Dapat dilihat dari keunggulan ofensif: menyerang jauh lebih murah daripada bertahan, sebab drone senilai sekitar US$20.000 memaksa Saudi menembakkan pencegat seharga US$4 juta (Sampson, 2026), sementara bandara dan fasilitas sipil yang luas mustahil dilindungi sepenuhnya. Kedua, postur defensif dan ofensif nyaris tak bisa dibedakan. Rudal yang oleh Houthi disebut “penangkal” adalah senjata yang sama untuk menyerang Riyadh, sedangkan “pertahanan” Saudi justru berwujud serangan pencegahan terhadap landasan pacu dan gudang rudal. Bila menyerang lebih dulu lebih menguntungkan dan niat lawan tak terbaca, insentif untuk mendahului menjadi tinggi. Itulah sebabnya eskalasi berlangsung sangat cepat, hanya dalam empat bulan.

• Dilema Keamanan Sejati vs. Konflik Kepentingan (Glaser, 1997; Tang, 2009)

Penting untuk membedakan apakah aksi militer dipicu oleh rasa takut yang murni (security seeker) atau ambisi ekspansi kekuasaan (greedy actor). Kasus Yaman mencakup kedua aspek: terdapat konflik kepentingan atas kekuasaan politik, namun dilapisi oleh ketakutan eksistensial yang memperkuat eskalasi.

Kasus ini bukan dilema keamanan murni. Ada konflik kepentingan yang nyata: Houthi menginginkan pengakuan sebagai penguasa de facto Yaman utara, sedangkan Riyadh ingin mencegah kekuatan bersenjata yang dekat dengan Iran di perbatasan sepanjang 1.300 kilometer. Ekspansi pengaruh Houthi di Laut Merah dan dukungan Iran menunjukkan unsur greedy. Meski begitu, unsur ketakutan juga kuat. Houthi membawa trauma perang Saada, intervensi 2015, dan blokade, sementara Saudi membawa trauma serangan Abqaiq 2019. Campuran ini menentukan resep kebijakan (Glaser, 1997). Penenteraman saja akan dimanfaatkan sebagai kelemahan, sedangkan penangkalan saja akan memperdalam ketakutan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kombinasi keduanya.

• Dilema Keamanan dalam Negara Runtuh (Posen, 1993)

Ketika otoritas negara runtuh, kelompok non-negara mengalami kondisi anarki mendadak dan berperilaku layaknya negara dalam sistem internasional. Bagi Houthi, taruhannya bukan sekadar batas wilayah, melainkan kelangsungan hidup gerakan.

Sejak Sana’a jatuh pada 2014, Yaman tidak memiliki otoritas tunggal yang mampu menjamin kesepakatan. Houthi dan pemerintah dukungan Riyadh hidup dalam anarki domestik, dan Houthi berperilaku layaknya negara: menguasai ibu kota, memiliki arsenal rudal, hingga mengumumkan blokade laut. Menurut Posen, dalam kondisi seperti ini setiap kelompok menilai ancaman lewat lensa sejarah dan identitas. Memori enam putaran perang 2004–2010 dan intervensi Saudi membuat setiap langkah Riyadh dibaca sebagai ancaman eksistensial. Bandara Sana’a adalah simbol kedaulatan de facto Houthi, sehingga serangan atasnya mengancam kelangsungan gerakan, bukan sekadar wilayah. Ketiadaan penjamin juga mendorong logika “jendela peluang”: bertindak sebelum lawan menguat, seperti terlihat dalam upaya mencegah pesawat Iran mendarat.

Rangkaian Eskalasi Konflik (Juli – Oktober 2026)

Gambar 2 berikut merangkum lima titik eskalasi dalam empat bulan. Setiap aksi satu pihak ditafsirkan lawan sebagai ancaman, dan tafsir itulah yang memicu aksi balasan berikutnya—pola klasik spiral dilema keamanan.

Gambar 2. Spiral eskalasi dan siklus aksi–reaksi Arab Saudi–Houthi, Juli–Oktober 2026
Sumber: diolah penulis dari Weinthal (2026); Al Jazeera (2026a, 2026b, 2026c, 2026d); ABC News (2026); The National (2026)

 

Kalkulasi Asimetri Ekonomi & Kerentanan Strategis

Realitas doubly dangerous Jervis tercermin secara konkret dalam kalkulasi rasio biaya (cost-asymmetry). Penggunaan satu rudal pencegat Patriot (PAC-3 MSE) membutuhkan biaya sekitar US$4 juta, sementara drone kamikaze Houthi diperkirakan hanya bernilai US$20.000 (Sampson, 2026). Ketimpangan ini merusak efektivitas pertahanan konvensional dalam dua hal utama:

• Pergeseran Standar Kemenangan: Houthi tidak perlu mengalahkan militer Saudi secara langsung di medan tempur; mereka hanya perlu terus merusak rasa aman publik dan menciptakan persepsi ketidakstabilan kawasan.

• Kerentanan Vision 2030: Program transformasi ekonomi Riyadh sangat bergantung pada daya tarik investasi luar negeri, pariwisata, dan stabilitas penerbangan. Setiap serangan yang menutup operasional bandara secara langsung mengikis kepercayaan investor global.

 

Tiga Langkah Pengendali Konflik

Mengutip kerangka Charles Glaser (1997), konflik yang berakar dari dilema keamanan tidak dapat diselesaikan murni dengan intimidasi militer maupun imbauan normatif. Diperlukan kombinasi antara penangkalan (deterrence) dan penenteraman (reassurance) melalui tiga langkah strategis:

• Sinyal Defensif Terbuka: Riyadh perlu memprioritaskan proteksi infrastruktur internal seraya secara eksplisit menahan diri dari pengeboman atas fasilitas publik sipil di Yaman (seperti bandara dan pelabuhan). Prinsip ‘bandara tidak menyerang bandara’ menghilangkan pembenaran utama eskalasi Houthi.

• Mekanisme Jaminan Bertahap (Commitment Mechanisms): Mengurangi kecurigaan sistemik melalui langkah-langkah terukur yang dibayar di muka, seperti pertukaran tahanan yang transparan, penyaluran gaji pegawai sipil Yaman, serta pengawasan rute penerbangan oleh pihak ketiga.

• Institusionalisasi Peran Penjamin Keamanan: Memanfaatkan kredibilitas mediator regional (seperti Oman) dan forum internasional untuk mengawal pelaksanaan komitmen bersama, sehingga setiap pelanggaran membawa konsekuensi reputasi yang mahal di tingkat global.

 

Penutup

Eskalasi Saudi–Houthi 2026 menegaskan pelajaran pokok teori dilema keamanan: rasa aman tidak bisa dibeli dengan senjata dan tidak bisa diraih secara sepihak. Pengeboman landasan Bandara Sana’a yang diniatkan Riyadh sebagai langkah pencegahan justru dibaca Houthi sebagai deklarasi perang. Hanya dalam empat bulan, satu langkah “defensif” berubah menjadi spiral kekerasan yang menelan korban jiwa, mengganggu jalur pelayaran Bab el-Mandeb, dan mengguncang fondasi Vision 2030.

Tiga simpulan utama dapat ditarik dari analisis ini:

  • Akar masalahnya adalah salah tafsir, bukan semata niat jahat. Kedua pihak sama-sama merasa sedang membela diri. Perang meletus karena masing-masing membaca langkah lawan sebagai ancaman, lalu membalas dengan langkah yang dibaca lawan sebagai ancaman berikutnya.
  • Keunggulan militer tidak sama dengan keamanan. Dengan drone seharga sekitar US$20.000 melawan rudal pencegat senilai US$4 juta, Houthi tidak perlu memenangkan perang; cukup terus menyerang untuk membuat Arab Saudi merasa tidak aman.
  • Jalan keluarnya adalah mengelola persepsi, bukan menambah senjata. Spiral hanya dapat diputus bila penangkalan diimbangi penenteraman: sinyal defensif yang jelas, jaminan yang dibayar di muka secara bertahap, dan mediator tepercaya seperti Oman. (*)

 

Daftar Pustaka

 

Buku dan Artikel Jurnal
  • Booth, K., & Wheeler, N. J. (2008). The security dilemma: Fear, cooperation and trust in world politics. Palgrave Macmillan.
  • Darwich, M. (2018). The Saudi intervention in Yemen: Struggling for status. Insight Turkey, 20(2), 125–142. https://doi.org/10.25253/99.2018202.08
  • Glaser, C. L. (1997). The security dilemma revisited. World Politics, 50(1), 171–201.
  • Herz, J. H. (1950). Idealist internationalism and the security dilemma. World Politics, 2(2), 157–180.
  • Jervis, R. (1978). Cooperation under the security dilemma. World Politics, 30(2), 167–214.
  • Juneau, T. (2016). Iran’s policy towards the Houthis in Yemen: A limited return on a modest investment. International Affairs, 92(3), 647–663.
  • Posen, B. R. (1993). The security dilemma and ethnic conflict. Survival, 35(1), 27–47.
  • Salmoni, BA, Loidolt, B., & Wells, M. (2010). Rezim dan pinggiran di Yaman Utara: Fenomena Houthi. RAND Corporation.
  • Tang, S. (2009). Dilema keamanan: Analisis konseptual. Studi Keamanan, 18(3), 587–623.

 

Berita dan Sumber Daring
  • ABC News. (12 Oktober 2026). Setidaknya 20 orang tewas dalam serangan selama seminggu di bandara-bandara Saudi, kata para pejabat. ABC News. https://abcnews.com/International/live-updates/iran-live-updates-trump-us-attack-iran-ahead?id=137063637&entryId=137188731
  • Al Jazeera. (2026a, 20 Juli). Houthi Yaman mendeklarasikan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi: Apa yang perlu diketahui. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/7/20/yemens-houthis-declare-naval-blockade-of-saudi-arabia-what-to-know
  • Al Jazeera. (2026b, 10 Oktober). Arab Saudi mengatakan 12 orang tewas, 300 orang terluka dalam serangan Houthi di bandara Riyadh. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/10/10/action-on-airport-in-saudi-capital-riyadh-leaves-several-injured
  • Al Jazeera. (2026c, 22 Oktober). Serangan di bandara King Fahd Arab Saudi menewaskan dua orang. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/10/22/one-killed-eight-injured-in-attack-on-saudi-arabias-king-fahd-airport-2
  • Al Jazeera. (2026d, 26 Oktober). Koalisi pimpinan Saudi mengatakan serangan itu menyerang fasilitas rudal Houthi. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/10/26/saudi-led-coalition-says-it-struck-houthi-missile-facilities
  • NBC News. (2019, 14 September). Serangan drone di lokasi pengolahan minyak terbesar di dunia, ladang minyak di Arab Saudi memicu kebakaran besar. NBC News. https://www.nbcnews.com/news/world/drone-attacks-world-s-largest-oil-processing-site-oil-field-n1054511
  • Sampson, E. (2026, 20 Juli). Lockheed Martin mengumumkan rudal pencegat Patriot yang lebih murah. Defense News. https://www.defensenews.com/news/your-military/2026/07/20/lockheed-martin-announces-cheaper-patriot-interceptor-missile/
  • Sela-Eitam, M., Perets, S., & Genn, J. (2026, 13 Juli). Pasukan Yaman menyerang landasan pacu bandara Sana’a yang dikuasai Houthi untuk mencegah pesawat Iran mendarat. The Jerusalem Post. https://www.jpost.com/middle-east/article-902356
  • The National. (26 Oktober 2026). Pertempuran semakin intensif ketika Houthi dan koalisi pimpinan Saudi melaporkan serangan di Yaman. The National. https://www.thenationalnews.com/news/gulf/2026/10/26/fighting-intensifies-as-houthis-and-saudi-led-coalition-in-yemen-report-attacks/
  • Berita PBB. (2022, 1 April). PBB menyambut baik pengumuman gencatan senjata dua bulan di Yaman. Perserikatan Bangsa-Bangsa. https://news.un.org/en/story/2022/04/1115392
  • Weinthal, B. (2026, 13 Juli). Kelompok Houthi yang didukung Iran mengancam serangan baru setelah serangan bandara Yaman. Fox News. https://www.foxnews.com/world/iran-backed-terror-proxy-houthis-threaten-fresh-attacks-after-yemen-airport-strike
Tags: Arab SaudiDosen MenulisNalil Khairiah
Admin Website

Admin Website

Related Posts

Mengapa Perancis Porak-Poranda?

Mengapa Perancis Porak-Poranda?

by Admin Website
October 27, 2026
0

Oleh: Dr. Nalil Khairiah, S.Ip., MPd. Dosen FISIP UMSU, Analis Kebijakan Publik dan Studi Keamanan (Studi Keamanan)   “Orang tidak...

Indonesia di Persimpangan Krisis: Mencari Stabilitas Ekonomi Menuju Keunggulan Bersaing

Indonesia di Persimpangan Krisis: Mencari Stabilitas Ekonomi Menuju Keunggulan Bersaing

by Admin Website
October 19, 2026
0

Oleh: Mujahiddin Associate Profesor Pada Bidang Studi Pembangunan di FISIP UMSU   Sejarah pembangunan ekonomi Indonesia menyimpan sebuah pelajaran penting:...

UMSU Vibes

UMSU Vibes

by Admin Website
October 14, 2026
0

Oleh: M. Risfan Sihaloho   Ada sesuatu yang membuat Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) lebih dari sekadar tempat menimba ilmu....

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

by Admin Website
October 14, 2026
0

Oleh: Rafdinal, S.Sos., M.AP. Jika ada satu gerakan Islam di Indonesia yang sejak awal mengartikan kata “beragama” sebagai “bekerja mencerdaskan...

Advokasi dan Perlindungan Hukum bagi Pekerja: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan

Advokasi dan Perlindungan Hukum bagi Pekerja: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan

by Admin Website
September 18, 2026
0

Oleh: Fadly Rahman Ketua Umum Serikat Pekerja Penjualan dan Servis (SPPS-FSPPG), Alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Pekerja memiliki kedudukan...

UMSU Melejit!

UMSU Melejit!

by Admin Website
September 12, 2026
0

Oleh: M Risfan Sihaloho Ada kata yang sederhana, tetapi bisa menjadi energi besar ketika ia dirumuskan menjadi sebuah visi bersama....

Next Post
Hadirkan Menteri LH dan Prof Dadang, Hari Pertama UMSU Wisuda 943 Lulusan Periode II 2026

Hadirkan Menteri LH dan Prof Dadang, Hari Pertama UMSU Wisuda 943 Lulusan Periode II 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Lewat Guest Lecturer Internasional, SPs UMSU Gaungkan Pentingnya Visibilitas Akademik Berbasis Integritas

Lewat Guest Lecturer Internasional, SPs UMSU Gaungkan Pentingnya Visibilitas Akademik Berbasis Integritas

2 months ago

Nike Invented Self-Lacing Sneakers Because the Future Is Now

3 months ago

Popular News

  • Kapolda Sumut di Wisuda UMSU Periode II 2026: Persatuan Adalah Kekuatan, Mahasiswa Harus Peduli Masa Depan Bangsa

    Kapolda Sumut di Wisuda UMSU Periode II 2026: Persatuan Adalah Kekuatan, Mahasiswa Harus Peduli Masa Depan Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Rektor di Hari Kedua Wisuda UMSU Periode II 2026: Jangan Lupakan Orang Tua, Gunakan Ilmu untuk Memajukan Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Kedua Wisuda UMSU Periode II 2026, 905 Lulusan Rayakan Kelulusan Bersama Kapolda Sumut di Hari Sumpah Pemuda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • FH UMSU Perkuat Sinergi Perlindungan Pengungsi Bersama UNHCR di Medan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wisuda UMSU 2026, Prof Dadang Kahmad Ingatkan Kompetensi Membuka Peluang, Integritas Menjaga Kepercayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor.
SUBSCRIBE

Category

  • Alumni Menulis
  • Artikel
  • BIM
  • BIPA
  • BPH
  • CDAC
  • Dosen Menulis
  • FAHUM
  • FAI
  • FAPERTA
  • FATEK
  • FEB
  • FIKTI
  • FISIP
  • FKIK
  • FKIP
  • GALERI
  • LBH
  • Mahasiswa Menulis
  • OIF
  • Persyarikatan
  • PUSKIIBI
  • SAINS
  • SPs
  • SRCC
  • UKM
  • Uncategorized
  • UNIVERSITAS

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

About Us

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

  • Home
  • Universitas
  • Akademika
  • Lembaga
  • Persyarikatan
  • Artikel

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.