• Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
Friday, October 30, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Cerdas UMSU
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
No Result
View All Result
Cerdas UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Mengapa Perancis Porak-Poranda?

Anatomi Singkat Amarah Massa dan Robohnya Wibawa Negara

by Admin Website
October 27, 2026
in Artikel, Dosen Menulis
0
Dr. Nalil Khairiah, S.Ip., Mpd.

Dr. Nalil Khairiah, S.Ip., Mpd.

0
SHARES
5
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Dr. Nalil Khairiah, S.Ip., MPd.

Dosen FISIP UMSU, Analis Kebijakan Publik dan Studi Keamanan (Studi Keamanan)

 

“Orang tidak memberontak karena miskin, tetapi karena merasa dikhianati oleh harapannya sendiri.”

 

Pendahuluan

Gelombang tersebut dihasilkan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, yang melibatkan sekitar 550.000 orang dan melumpuhkan Paris, Lyon, Marseille, hingga Limoges, balai kota bersejarahnya membakar malam itu, menunjukkan bahwa krisis di Perancis telah melampaui batas pembekuan biasa. Artikel opini ini berargumen bahwa eskalasi tersebut dapat dipahami sebagai rangkaian tiga mekanisme yang saling berkelindan.

Penulis mencoba menganalisisnya menggunakan tiga teori untuk tiga pemicu.

Pertama, teori deprivasi relatif menunjukkan kekecewaan kolektif akibat kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan ekonomi.

Kedua, teori mobilisasi sumber daya menunjukkan kemampuan massa mengorganisasi diri melalui jaringan digital dan simbol bersama.

Ketiga, teori jendela pecah ( broken windows theory ) untuk melihat runtuhnya persepsi akan kehadiran hukum di ruang. Penulis menyimpulkan bahwa respons keamanan seperti jam malam dan pengerahan militer hanya bersifat paliatif; Stabilitas jangka panjang menuntut pemulihan keadilan struktural sekaligus penegakan yang konsisten dan proporsional.

 

Kerangka Analisis: Tiga Lensa yang Saling Berkelindan

Masing-masing teori yang digunakan dalam tulisan ini lahir dari tradisi keilmuan yang berbeda: psikologi politik, organisasi sosiologis, dan kriminologi perkotaan. Ketika dipakai sendiri-sendiri, setiap teori hanya berakhir pada satu sisi peristiwa. Namun, ketika dirangkai sebagai satu alur kausal, mengecewakan, organisasi, lalu eskalasi, ketiganya memberikan penjelasan yang lebih utuh atas dinamika krisis.

Analisis kerangka : tiga teori sosiologi politik sebagai alur kausalitas frustrasi kolektif yang memicu eskalasi kekerasan

Analisis kerangka : tiga teori sosiologi politik sebagai alur kausalitas frustrasi kolektif yang memicu eskalasi kekerasan

Deprivasi Relatif: Ketika Ekspektasi Terbentur Realitas Ekonomi

Akar meledaknya kemarahan publik yang begitu masif dapat dijelaskan melalui Teori Deprivasi Relatif ( Relative Deprivation Theory ) yang dirumuskan oleh Ted Robert Gurr (1970) dalam karyanya Why Men Rebel. Gurr berargumen bahwa kekerasan politik tidak lahir dari kemiskinan absolut, melainkan dari bayangan psikologis antara apa yang diyakini masyarakat sebagai haknya ( nilai harapan ) dan apa yang secara nyata mampu mereka peroleh ( nilai kemampuan ).

Gagasan ini sejalan dengan hipotesis “kurva-J” James C. Davies (1962), yang menyatakan bahwa gejolak paling mungkin terjadi ketika kemakmuran masa yang membangun harapan tiba-tiba disusul oleh kemerosotan tajam.

Sebagai warga negara yang hidup di bawah naungan negara kesejahteraan (welfare state), masyarakat Perancis memiliki ekspektasi tinggi bahwa negara wajib menjamin stabilitas hidup mereka.

Namun, realitas ekonomi saat ini justru mencekik. Lonjakan harga solar hingga €2,37 per liter (rata-rata nasional per 18 Oktober 2026, setelah sempat menyentuh €2,40 pada akhir September 2026) akibat ketegangan geopolitik global menghantam langsung isi dompet kelas pekerja. Ironisnya, di saat beban hidup meroket, kualitas fasilitas pendidikan justru menurun akibat pemotongan anggaran publik.

Ketika ekspektasi hidup layak terbentur pada realitas yang serba mahal, lahirlah frustrasi kolektif. Dalam kerangka Gurr, amarah yang meledak bukan lagi sekadar protes soal harga solar atau ruang kelas yang padat, melainkan akumulasi rasa ketidakadilan yang mendalam, sebuah perasaan bahwa “kontrak sosial” negara kesejahteraan telah diingkari, yang kemudian menuntut pelampiasan radikal.

 

Mobilisasi Sumber Daya: Jaringan Digital dan Kebangkitan Rompi Kuning

Kendati demikian, frustrasi yang terpendam tidak akan menjelma menjadi batu yang beterbangan dan kepulan asap di jalanan tanpa adanya pengorganisasian. Inilah titik lemah penjelasan psikologis murni, dan di sinilah Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory) yang dikembangkan oleh John D. McCarthy dan Mayer N. Zald (1977) menemukan relevansinya.

Teori ini menegaskan bahwa ketidakpuasan selalu ada dalam masyarakat; yang menentukan apakah ia berubah menjadi gerakan adalah kemampuan penggalangan massa dan memanfaatkan sumber daya, baik berupa jaringan, informasi, waktu, maupun simbol.

Gerakan di Perancis yang awalnya diinisiasi oleh kelompok pelajar pada 21 September 2026, bermula dari Lycée Antoine-de-Saint-Exupéry di Créteil, pinggiran Paris, mampu bermutasi dalam kurang dari sebulan menjadi gelombang protes nasional karena ditopang oleh teknologi digital dan modal budaya. Tanpa komando partai politik, media sosial bertindak sebagai infrastruktur taktis yang sangat cair. Lewat layar ponsel, ratusan ribu orang dikoordinasikan secara instan, mulai dari titik kumpul hingga strategi menghadapi gas air mata.

Pola ini menggambarkan apa yang oleh Bennett dan Segerberg (2012) sebut sebagai connective action: aksi kolektif yang dirajut oleh jaringan digital yang personal dan longgar, alih-alih oleh organisasi formal yang hierarkis.

Selain sumber daya teknologis, massa aksi juga cerdik mengaktifkan sumber daya kultural dengan menghidupkan kembali memori kolektif gerakan tahun 2018 melalui simbol Gilets Jaunes (Rompi Kuning). Identitas visual ini berfungsi sebagai perekat emosional yang menyatukan berbagai elemen masyarakat yang terfragmentasi ke dalam satu barisan perlawanan yang solid.

Kendati demikian, frustrasi psikologis yang terpendam tidak akan pernah bisa menjelma menjadi batu terbang dan kepulan asap di jalanan tanpa adanya pengorganisasian.

Di sinilah Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory) yang dikembangkan oleh John D. McCarthy dan Mayer N. Zald pada tahun 1977 menemukan relevansinya [ McCarthy & Zald, 1977]. Teori ini membongkar fakta bahwa keberhasilan eskalasi sebuah gerakan sosial sangat bergantung pada kemampuan massa dalam menggalang dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Gerakan di Perancis yang awalnya diinisiasi oleh kelompok pelajar pada 21 September 2026 mampu bermutasi menjadi gelombang protes nasional karena ditopang oleh teknologi digital dan modal budaya. Tanpa komando partai politik, media sosial bertindak sebagai infrastruktur taktis yang sangat cair. Lewat layar ponsel, ratusan ribu massa dikoordinasikan secara instan pada titik kumpul hingga strategi menghadapi gas air mata.

Selain itu, massa aksi juga cerdik menghidupkan kembali memori kolektif gerakan tahun 2018 dengan mengadopsi simbol Gilets Jaunes (Rompi Kuning). Identitas visual ini menjadi perekat emosional yang menyatukan berbagai elemen masyarakat yang terfragmentasi ke dalam satu barisan perlawanan yang solid.

Jendela Pecah: Efek Domino di Ruang Publik

Pertanyaan sosiologis terbesar kemudian adalah: mengapa demonstrasi berbasis tuntutan ekonomi dengan cepat merosot menjadi penjarahan brutal dan vandalisme liar? Untuk menjawabnya, kita dapat merujuk pada Teori Jendela Pecah (Broken Windows Theory) yang dikenalkan oleh James Q. Wilson dan George L. Kelling (1982).

Teori ini menyatakan bahwa pembiaran terhadap tanda-tanda kecil kekacauan fisik, seperti jendela bangunan yang pecah, memicu persepsi bahwa lingkungan tersebut tidak diawasi, yang pada gilirannya mengundang pelanggaran yang jauh lebih besar.

Di Perancis, analogi “jendela pecah” itu terwujud secara nyata ketika pemerintah mengalami kegagalan intelijen awal dan kepolisian gagal mengendalikan perimeter kota pada fase awal kerusuhan Sabtu, 17 Oktober 2026. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez sendiri, pada 19 Oktober 2026, mengakui adanya “kurangnya antisipasi” dan jumlah aparat yang tidak memadai di sejumlah titik.

Ketika toko retail pertama dibobol tanpa tindakan tegas dari aparat, atau ketika barikade pertama runtuh diterobos demonstran tercipta ilusi visual yang berbahaya di benak publik: negara sedang lemah dan hukum sedang lumpuh.

Sinyal “bebas hukum” ini menyebar bak virus. Massa yang awalnya hanya berniat berdemonstrasi damai mengalami pergeseran batas moral. Mereka menjadi berani ikut menjarah butik mewah atau membakar fasilitas publik karena melihat orang lain melakukannya tanpa langsung menerima sanksi. Dengan kata lain, ketika ketertiban fisik dibiarkan runtuh, psikologi massa berasumsi bahwa batas-batas hukum pun telah hilang.

 

Diskusi: Sintesis dan Batas Penjelasan

Kekuatan analisis ini terletak pada integrasi ketiga teori. Deprivasi relatif menyediakan bahan bakar, mobilisasi sumber daya menyediakan mesin, dan jendela pecah menjelaskan momen ketika rem sosial, yakni rasa takut terhadap sanksi hukum, gagal berfungsi. Tanpa salah satunya, eskalasi sebesar ini sulit dibayangkan: frustrasi tanpa organisasi akan teredam di ruang privat, organisasi tanpa frustrasi tidak memiliki daya tarik massal, dan keduanya tanpa runtuhnya ketertiban kemungkinan besar akan tetap berwujud demonstrasi damai.

Meski demikian, setiap lensa memiliki keterbatasan yang patut diakui. Teori Deprivasi Relatif kerap dikritik karena sulit diukur secara empiris dan cenderung mengabaikan faktor organisasi, kelemahan yang justru menjadi titik tolak McCarthy dan Zald.

Teori Jendela Pecah pun bukan tanpa perdebatan: Harcourt (2001) mempertanyakan bukti empiris yang menopangnya, sementara Sampson dan Raudenbush (1999) menemukan bahwa ketidaktertiban dan kejahatan sama-sama bersumber dari faktor struktural yang lebih dalam, seperti lemahnya kohesi sosial dan ketimpangan.

Temuan terakhir ini justru memperkuat argumen tulisan ini: kekacauan di ruang publik tidak dapat dipisahkan dari akar ketidakadilan ekonomi yang melatarinya.

 

Penutup

Krisis hebat yang melanda Perancis merupakan alarm keras bagi model tata kelola pemerintahan modern di seluruh dunia. Langkah darurat yang diambil Perdana Menteri Sébastien Lecornu dengan memberlakukan jam malam terbatas sejak 19 Oktober 2026 di Paris, Lyon, dan sejumlah kota besar lain, serta mengerahkan unit militer Operasi Sentinelle, yang diumumkan pada 20 Oktober 2026 menjelang aksi lanjutan 24 Oktober 2026, secara masif ke jalanan hanyalah berfungsi sebagai obat penenang sementara. Stabilitas jangka panjang tidak dapat dibangun di atas moncong senjata dan represi aparat semata.

Berdasarkan analisis di atas, penulis mengajukan tiga rekomendasi yang selaras dengan ketiga lapis mekanisme tersebut:

1. Pulihkan keadilan struktural. Pemerintah perlu mempersempit jurang deprivasi melalui perlindungan biaya hidup bagi kelas pekerja serta mengembalikan prioritas anggaran pada layanan publik, khususnya pendidikan.

2. Buka saluran aspirasi yang kredibel. Ketika partai politik tradisional kehilangan daya ikat, negara perlu membangun ruang dialog yang mampu menjangkau gerakan berbasis jaringan digital, sehingga energi mobilisasi tersalurkan ke jalur kelembagaan, bukan jalanan.

3. Tegakkan ketertiban secara konsisten dan proporsional. Wibawa hukum dipulihkan bukan dengan kekerasan berlebihan, melainkan dengan kehadiran aparat yang cepat, terukur, dan adil sejak pelanggaran pertama, agar tidak ada “jendela pecah” yang dibiarkan.

Selama akar deprivasi ekonomi, berupa memutarkan biaya hidup dan ketimpangan pada anggaran publik, tidak disembuhkan secara struktural, dan selama wibawa hukum di ruang publik dibiarkan jebol oleh pembiaran kekacauan memikirkan apa pun, setiap kebijakan baru yang tidak populer akan selalu menjadi “jendela pecah” lokasi berikutnya yang mengundang kemarahan massa yang jauh lebih destruktif. (*)

 

Daftar Pustaka

◾Bennett, WL, & Segerberg, A. (2012). Logika tindakan konektif: Media digital dan personalisasi politik yang kontroversial. Informasi, Komunikasi & Masyarakat, 15(5), 739–768.

◾Davies, JC (1962). Menuju teori revolusi. Tinjauan Sosiologis Amerika, 27(1), 5–19.

◾Gurr, TR (1970). Mengapa dia memberontak. Per Universitas Princeton.

◾Harcourt, BE (2001). Ilusi Perjanjian: Janji palsu kebijakan penegakan hukum jendela pecah. Per Universitas Harvard.

◾McCarthy, JD, & Zald, MN (1977). Mobilisasi sumber daya dan gerakan sosial: Sebuah teori parsial. Jurnal Sosiologi Amerika, 82(6), 1212–1241.

◾Sampson, RJ, & Raudenbush, SW (1999). Pengamatan sosial sistematis terhadap ruang publik: Pandangan baru tentang kekacauan di lingkungan perkotaan. Jurnal Sosiologi Amerika, 105(3), 603–651.

◾Wilson, JQ, & Kelling, GL (1982, Maret). Jendela pecah: Polisi dan keamanan lingkungan. Bulanan Atlantik, 249(3), 29–38.

Admin Website

Admin Website

Related Posts

Eskalasi Saudi–Houthi 2026: Ketika Langkah Defensif Memicu Perang Baru

Eskalasi Saudi–Houthi 2026: Ketika Langkah Defensif Memicu Perang Baru

by Admin Website
October 27, 2026
0

Oleh: Dr. Nalil Khairiah, S.Ip., MPd. Dosen FISIP UMSU, Analis Kebijakan Publik dan Studi Keamanan (Studi Keamanan)   Ukuran keberhasilan...

Indonesia di Persimpangan Krisis: Mencari Stabilitas Ekonomi Menuju Keunggulan Bersaing

Indonesia di Persimpangan Krisis: Mencari Stabilitas Ekonomi Menuju Keunggulan Bersaing

by Admin Website
October 19, 2026
0

Oleh: Mujahiddin Associate Profesor Pada Bidang Studi Pembangunan di FISIP UMSU   Sejarah pembangunan ekonomi Indonesia menyimpan sebuah pelajaran penting:...

UMSU Vibes

UMSU Vibes

by Admin Website
October 14, 2026
0

Oleh: M. Risfan Sihaloho   Ada sesuatu yang membuat Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) lebih dari sekadar tempat menimba ilmu....

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

by Admin Website
October 14, 2026
0

Oleh: Rafdinal, S.Sos., M.AP. Jika ada satu gerakan Islam di Indonesia yang sejak awal mengartikan kata “beragama” sebagai “bekerja mencerdaskan...

Advokasi dan Perlindungan Hukum bagi Pekerja: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan

Advokasi dan Perlindungan Hukum bagi Pekerja: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan

by Admin Website
September 18, 2026
0

Oleh: Fadly Rahman Ketua Umum Serikat Pekerja Penjualan dan Servis (SPPS-FSPPG), Alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Pekerja memiliki kedudukan...

UMSU Melejit!

UMSU Melejit!

by Admin Website
September 12, 2026
0

Oleh: M Risfan Sihaloho Ada kata yang sederhana, tetapi bisa menjadi energi besar ketika ia dirumuskan menjadi sebuah visi bersama....

Next Post
Galeri: Yudisium Fakultas Hukum UMSU

Galeri: Yudisium Fakultas Hukum UMSU

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Hadirkan Staf Ahli Pemprov Sumut, Kuliah Umum SPs UMSU Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif

Hadirkan Staf Ahli Pemprov Sumut, Kuliah Umum SPs UMSU Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif

3 weeks ago
Lolos Asesmen, 137 Mahasiswa RPL MIH UMSU Ikuti Matrikulasi AIK dan Pengenalan LMS

Lolos Asesmen, 137 Mahasiswa RPL MIH UMSU Ikuti Matrikulasi AIK dan Pengenalan LMS

2 weeks ago

Popular News

  • Bupati Sergai Dharma Wijaya Bangga Jadi Alumni UMSU, Siap Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Daerah

    Bupati Sergai Dharma Wijaya Bangga Jadi Alumni UMSU, Siap Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lepas Empat Tim Mahasiswa UMSU Menuju PIMNAS 39, Rektor Beri Pesan Jaga Nama Baik Almamater

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wisuda UMSU Periode II 2026 Sukses Digelar, Dr Marah Doly: Maksimal Menjalankan Arahan Rektor Jadi Kuncinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Ketiga Wisuda UMSU Periode II 2026, Rektor Bangga Lahirkan Generasi Unggul Cerdas Terpercaya ‎

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Ketiga Wisuda UMSU Periode II 2026, 809 Lulusan Siap Hadapi Persaingan Dunia Nyata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor.
SUBSCRIBE

Category

  • Alumni Menulis
  • Artikel
  • BIM
  • BIPA
  • BPH
  • CDAC
  • Dosen Menulis
  • FAHUM
  • FAI
  • FAPERTA
  • FATEK
  • FEB
  • FIKTI
  • FISIP
  • FKIK
  • FKIP
  • GALERI
  • LBH
  • Mahasiswa Menulis
  • OIF
  • Persyarikatan
  • PUSKIIBI
  • SAINS
  • SPs
  • SRCC
  • UKM
  • Uncategorized
  • UNIVERSITAS

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

About Us

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

  • Home
  • Universitas
  • Akademika
  • Lembaga
  • Persyarikatan
  • Artikel

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.