MEDAN — Tantangan bangsa tidak berhenti pada persoalan politik dan ekonomi. Kejahatan narkotika, kejahatan siber, perdagangan orang, hingga ancaman terhadap persatuan masyarakat menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda.
Pesan itu disampaikan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut) Irjen Pol Sonny Irawan, S.I.K., M.H., saat menyampaikan orasi kebangsaan pada Wisuda Periode II Tahun 2026 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rabu (28/10/2026), di Convention Hall Gedung Selecta, Medan.
Orasi tersebut terasa relevan karena disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Di hadapan para wisudawan, pimpinan universitas, dosen, dan undangan, Sonny mengajak generasi muda melihat persoalan kebangsaan secara lebih luas serta memahami pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Ia membuka paparannya dengan menjelaskan pengalaman panjangnya di institusi kepolisian, termasuk ketika bertugas di bidang pendidikan dan pernah menjabat sebagai kepala sekolah yang mendidik para perwira Polri. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bekal untuk berbagi pandangan mengenai dinamika bangsa dan tantangan keamanan.
Sonny menegaskan bahwa orasi kebangsaan yang disampaikannya bukan untuk menggurui para akademisi maupun mahasiswa, melainkan menjadi ruang berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai tanggung jawab bersama dalam menjaga Indonesia.
Menurutnya, memahami kondisi bangsa harus dimulai dengan melihat lingkungan strategis pada tingkat global, regional, dan nasional. Perkembangan di luar negeri dapat memberikan pengaruh terhadap situasi dalam negeri, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun stabilitas sosial.
Konflik internasional, misalnya, dapat memengaruhi harga energi, tekanan terhadap anggaran negara, dan kondisi perekonomian. Karena itu, generasi muda perlu memiliki wawasan yang luas agar mampu memahami hubungan antara peristiwa global dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pada tingkat nasional, Sonny menyoroti sejumlah tantangan yang perlu mendapatkan perhatian, di antaranya polarisasi politik, radikalisme, kejahatan siber, dan narkotika. Berbagai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga menyangkut ketahanan sosial dan kualitas kehidupan berbangsa.
Dalam paparannya, ia secara khusus menyoroti posisi strategis Sumatera Utara. Provinsi ini memiliki wilayah yang luas, jumlah penduduk besar, serta letak geografis yang berdekatan dengan jalur perdagangan internasional dan kawasan Semenanjung Malaka.
Sonny menyebut Sumatera Utara sebagai salah satu wilayah yang memiliki dinamika tinggi, baik secara geografis, ekonomi, politik, maupun keamanan. Posisi tersebut memberikan peluang bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan yang harus diantisipasi bersama.
Kedekatan wilayah Sumatera Utara dengan Malaysia dan Thailand, misalnya, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mencegah kejahatan lintas negara, termasuk peredaran narkotika.
Ia juga memaparkan gambaran gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat di Sumatera Utara. Berdasarkan pemetaan yang disampaikan dalam orasi tersebut, tindak pidana umum seperti pencurian masih menjadi perhatian, diikuti persoalan narkotika, kejahatan terhadap anak, perdagangan orang, serta kejahatan khusus dan kejahatan siber.
Sejumlah wilayah yang disebut memiliki angka kejahatan tinggi dalam pemetaan Januari hingga Oktober 2026 meliputi Kota Medan, Labuhanbatu, Deli Serdang, Belawan, dan Simalungun.
Paparan tersebut menunjukkan bahwa menjaga keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian. Keterlibatan masyarakat diperlukan untuk membangun lingkungan yang aman, meningkatkan kepedulian sosial, dan mencegah berkembangnya berbagai bentuk kejahatan.
Sonny kemudian menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Baginya, keberagaman Sumatera Utara merupakan kekuatan yang harus dirawat, bukan alasan untuk membangun sekat di tengah masyarakat.
Sumatera Utara dihuni masyarakat dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya. Keberagaman itu menjadi gambaran Indonesia dalam skala daerah sekaligus modal sosial yang penting bagi pembangunan.
Karena itu, ia mengingatkan agar perbedaan suku, ras, dan agama tidak dijadikan alat untuk memecah belah masyarakat. Sebaliknya, setiap warga perlu membangun sikap saling menghormati dan memperkuat kerja sama demi kepentingan bersama.
Dalam orasinya, Sonny mengajak mahasiswa UMSU dan seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi dengan Polri, khususnya Polda Sumut, dalam menjaga keamanan, ketertiban, persatuan, dan kesatuan bangsa.
Ia juga menghubungkan pesan tersebut dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurutnya, upaya menuju Indonesia yang berdaulat dan mandiri membutuhkan kondisi sosial yang kondusif, masyarakat yang bersatu, serta generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Pesan kebangsaan itu disampaikan di hadapan 905 wisudawan UMSU yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Agama Islam, serta Fakultas Hukum. Mereka merupakan bagian dari 2.657 lulusan pada Wisuda Periode II Tahun 2026 yang berlangsung selama tiga hari.
Bagi para lulusan yang akan memasuki dunia kerja maupun pengabdian masyarakat, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kompetensi akademik perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga perlu memahami persoalan di lingkungannya serta berani mengambil peran dalam mencari solusi.
Momentum Hari Sumpah Pemuda pun memberikan makna tersendiri bagi orasi kebangsaan tersebut. Semangat pemuda tidak hanya diwujudkan melalui prestasi individu, tetapi juga melalui kesediaan untuk menjaga persaudaraan, menolak perpecahan, dan berkontribusi bagi kepentingan bangsa.
Di tengah perubahan global dan kompleksitas persoalan keamanan, persatuan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus melangkah maju. Dan bagi Sonny, upaya merawat persatuan itu harus dilakukan bersama, mulai dari institusi negara, perguruan tinggi, hingga masyarakat dan generasi muda.(Foto: Wira)









