• Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
Friday, October 23, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Cerdas UMSU
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis
No Result
View All Result
Cerdas UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Indonesia di Persimpangan Krisis: Mencari Stabilitas Ekonomi Menuju Keunggulan Bersaing

by Admin Website
October 19, 2026
in Artikel, Dosen Menulis
0
0
SHARES
5
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Mujahiddin

Associate Profesor Pada Bidang Studi Pembangunan di FISIP UMSU

 

Sejarah pembangunan ekonomi Indonesia menyimpan sebuah pelajaran penting: stabilitas merupakan syarat bagi kemajuan, tetapi bukan jaminan bahwa suatu bangsa akan menjadi kompetitif. Sebuah negara dapat menjaga pertumbuhan, mengendalikan gejolak makroekonomi, dan menarik investasi, tetapi tetap menghadapi persoalan produktivitas, ketergantungan pada komoditas mentah, lemahnya penguasaan teknologi, serta ketimpangan kesempatan ekonomi. Persoalan inilah yang perlu dibicarakan kembali ketika Indonesia berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi global.

Gejolak harga pangan dan energi, perubahan arah perdagangan internasional, persaingan memperoleh investasi, serta perkembangan teknologi yang berlangsung cepat memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi tidak cukup diukur dari kemampuan pemerintah menjaga indikator makroekonomi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah perekonomian nasional memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja produktif, dan menghasilkan barang serta jasa yang mampu bersaing di pasar internasional.

Warisan Stabilitas dan Batas Pembangunan Berbasis Pertumbuhan

Pada masa awal Orde Baru, pembangunan ekonomi Indonesia dihadapkan pada persoalan yang sangat mendasar: inflasi tinggi, kerentanan fiskal, keterbatasan infrastruktur, serta rendahnya kapasitas produksi. Dalam situasi demikian, pemulihan stabilitas menjadi prasyarat bagi berjalannya kegiatan ekonomi. Pemikiran para teknokrat ekonomi, termasuk Widjojo Nitisastro, menempatkan stabilisasi, perencanaan pembangunan, dan penggunaan sumber daya secara lebih terarah sebagai bagian penting dari upaya membangun kembali perekonomian nasional.

Pembangunan kemudian dijalankan melalui perencanaan bertahap, antara lain Repelita, dengan perhatian pada pertanian, infrastruktur, pendidikan, dan pengembangan kapasitas produksi. Indonesia juga mencatat kemajuan dalam sejumlah indikator sosial-ekonomi. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa negara mempunyai peran strategis dalam menciptakan prasyarat bagi pembangunan, terutama ketika pasar belum mampu menyediakan infrastruktur dan layanan dasar secara memadai.

Namun, sejarah juga menunjukkan batas dari model pertumbuhan yang terlalu bergantung pada ekspor komoditas, investasi yang terkonsentrasi, dan keputusan ekonomi yang terpusat. Ketika harga komoditas melemah atau krisis keuangan mengguncang perekonomian, ketergantungan tersebut dapat menjadi sumber kerentanan. Krisis Asia 1997–1998, misalnya, memperlihatkan betapa cepatnya ketidakseimbangan ekonomi dan kelemahan kelembagaan berkembang menjadi krisis yang luas.

Pelajaran sejarah itu bukan berarti bahwa seluruh capaian pembangunan masa lalu harus ditinggalkan. Sebaliknya, fondasi yang telah dibangun perlu dievaluasi secara kritis agar tidak menjadi alasan untuk mempertahankan pendekatan yang sudah tidak memadai. Stabilitas makroekonomi tetap penting, tetapi stabilitas harus menjadi landasan bagi transformasi produktif, bukan tujuan akhir pembangunan.

Dari Keunggulan Komparatif Menuju Keunggulan Bersaing

Salah satu persoalan mendasar ekonomi Indonesia adalah kecenderungan mengandalkan keunggulan komparatif berupa kekayaan sumber daya alam, tenaga kerja, dan pasar domestik yang besar. Keunggulan tersebut memang memberikan modal awal yang penting. Akan tetapi, modal awal tidak otomatis menghasilkan daya saing jangka panjang.

Dalam The Competitive Advantage of Nations (1990), Michael E. Porter menjelaskan bahwa keunggulan bersaing suatu bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh kelimpahan sumber daya alam atau biaya produksi yang murah. Daya saing tumbuh melalui produktivitas, inovasi, peningkatan kualitas, dan kemampuan perusahaan serta institusi membangun keunggulan yang terus diperbarui.

Perbedaan antara keunggulan komparatif dan keunggulan bersaing penting untuk memahami arah pembangunan Indonesia. Keunggulan komparatif dapat membawa Indonesia menjadi pemasok nikel, batu bara, minyak sawit, atau komoditas pertanian. Namun, keunggulan bersaing menuntut kemampuan yang lebih jauh: menguasai teknologi pengolahan, mengembangkan industri pendukung, menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, membangun merek, serta menciptakan pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi inovasi baru.
Persoalannya bukan apakah Indonesia perlu memanfaatkan sumber daya alam, melainkan bagaimana pemanfaatan itu menghasilkan kemampuan produktif yang bertahan dalam jangka panjang. Negara yang terus mengekspor komoditas tanpa memperkuat teknologi dan industrinya berisiko terjebak dalam posisi sebagai pemasok bahan baku bagi ekonomi yang lebih maju.

Sebaliknya, negara yang berhasil meningkatkan daya saing menjadikan sumber daya awal sebagai titik berangkat untuk membangun ekosistem produksi yang semakin kompleks. Nilai tambah tidak berhenti pada tahap pengolahan pertama, tetapi berkembang melalui riset, rekayasa, desain, logistik, pembiayaan, pengembangan tenaga kerja, dan pemasaran. Dalam konteks Indonesia, transformasi ini penting agar kekayaan alam tidak sekadar menghasilkan penerimaan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kemampuan nasional untuk menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.

Negara sebagai Ekosistem Produktif

Pembicaraan mengenai daya saing sering kali berujung pada pilihan yang seolah-olah saling bertentangan: negara atau pasar. Padahal, persoalan utama bukan menentukan siapa yang harus mendominasi, melainkan bagaimana keduanya membentuk hubungan yang mendorong produktivitas dan kepentingan publik.

Keseimbangan ini semakin penting ketika Indonesia menghadapi tekanan ekonomi global yang tidak selalu berasal dari dalam negeri. Ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan negara besar, fluktuasi nilai tukar, dan pergeseran rantai pasok dapat menimbulkan dampak yang sulit dikendalikan. Indonesia memang tidak dapat menghapus seluruh risiko eksternal, tetapi dapat memperkecil kerentanannya melalui diversifikasi pasar ekspor, peningkatan produktivitas, penguatan industri domestik, dan pengembangan sumber energi yang lebih tangguh.
Perekonomian dapat terlihat semakin kompetitif pada tingkat agregat, tetapi kehilangan legitimasi sosial apabila manfaat pertumbuhannya terkonsentrasi, kualitas pekerjaan tidak membaik, dan kelompok usaha kecil terus tertinggal. Karena itu, agenda daya saing perlu dihubungkan dengan penciptaan pekerjaan layak, peningkatan pendapatan riil, pemerataan akses pendidikan dan teknologi, serta perlindungan lingkungan.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bagi Indonesia bukan hanya seberapa kuat kita bertahan menghadapi krisis, melainkan apa yang berhasil kita bangun ketika krisis itu berlalu. Apakah kita kembali bergantung pada ekspor komoditas dan berharap harga dunia tetap menguntungkan? Ataukah kita menggunakan tekanan global sebagai dorongan untuk memperkuat industri, memperbaiki kualitas tenaga kerja, dan menciptakan inovasi yang berakar di dalam negeri?

Stabilitas memberi ruang bagi pembangunan. Daya saing menentukan sejauh mana ruang itu digunakan untuk menciptakan kemajuan. Sementara itu, keadilan menentukan apakah kemajuan tersebut benar-benar menjadi milik masyarakat luas.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya maupun peluang. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah keduanya menjadi kemampuan produktif yang berkelanjutan. Di situlah pembangunan ekonomi menemukan maknanya: bukan semata-mata membuat angka pertumbuhan terlihat menjanjikan, melainkan membangun bangsa yang lebih mandiri, lebih inovatif, dan lebih mampu menjamin kesejahteraan warganya. (*)

Tags: IndonesiaMujahiddin
Admin Website

Admin Website

Related Posts

UMSU Vibes

UMSU Vibes

by Admin Website
October 14, 2026
0

Oleh: M. Risfan Sihaloho   Ada sesuatu yang membuat Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) lebih dari sekadar tempat menimba ilmu....

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

by Admin Website
October 14, 2026
0

Oleh: Rafdinal, S.Sos., M.AP. Jika ada satu gerakan Islam di Indonesia yang sejak awal mengartikan kata “beragama” sebagai “bekerja mencerdaskan...

Advokasi dan Perlindungan Hukum bagi Pekerja: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan

Advokasi dan Perlindungan Hukum bagi Pekerja: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan

by Admin Website
September 18, 2026
0

Oleh: Fadly Rahman Ketua Umum Serikat Pekerja Penjualan dan Servis (SPPS-FSPPG), Alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Pekerja memiliki kedudukan...

UMSU Melejit!

UMSU Melejit!

by Admin Website
September 12, 2026
0

Oleh: M Risfan Sihaloho Ada kata yang sederhana, tetapi bisa menjadi energi besar ketika ia dirumuskan menjadi sebuah visi bersama....

UMSU: Memimpin untuk Bermanfaat, Tumbuh dari Generasi ke Generasi

UMSU: Memimpin untuk Bermanfaat, Tumbuh dari Generasi ke Generasi

by Admin Website
August 21, 2026
0

Oleh : Jufri Ada satu kalimat menarik yang disampaikan Prof. Akrim melalui pesan singkat: “Saling membantu dan mendukung untuk kebersamaan,...

Next Post
Sentuhan Doa Nenek Bawa Mahasiswi FISIP UMSU Ukir Prestasi Perdana di Kejurprov Panjat Tebing 2026

Sentuhan Doa Nenek Bawa Mahasiswi FISIP UMSU Ukir Prestasi Perdana di Kejurprov Panjat Tebing 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

LabMu Perluas Akses Donasi Digital untuk Bantu Korban Gempa NTT melalui MASA

LabMu Perluas Akses Donasi Digital untuk Bantu Korban Gempa NTT melalui MASA

2 months ago
Yudisium FIKTI UMSU, Dekan Ingatkan Ancaman AI dan Dorong Lulusan Tak Hanya Jadi Pengguna Teknologi

Yudisium FIKTI UMSU, Dekan Ingatkan Ancaman AI dan Dorong Lulusan Tak Hanya Jadi Pengguna Teknologi

4 hours ago

Popular News

  • Bekali Anak Panti dengan Life Skill, Mahasiswa PPG LPTK FKIP UMSU Ubah Kain Perca Jadi Karya Kreatif

    Bekali Anak Panti dengan Life Skill, Mahasiswa PPG LPTK FKIP UMSU Ubah Kain Perca Jadi Karya Kreatif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yudisium FIKTI UMSU, Dekan Ingatkan Ancaman AI dan Dorong Lulusan Tak Hanya Jadi Pengguna Teknologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yudisium FIKTI UMSU, Dr Rudianto Dorong Lulusan Jadi Talenta yang Diperebutkan Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • FIKTI UMSU Yudisium 297 Lulusan, Awal Perjalanan Menaklukkan Dunia Teknologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • CDAC UMSU Gelar Pelatihan Pembimbing Karir, Dorong Dosen PA Perkuat Kesiapan Kerja Mahasiswa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor.
SUBSCRIBE

Category

  • Alumni Menulis
  • Artikel
  • BIM
  • BIPA
  • BPH
  • CDAC
  • Dosen Menulis
  • FAHUM
  • FAI
  • FAPERTA
  • FATEK
  • FEB
  • FIKTI
  • FISIP
  • FKIK
  • FKIP
  • LBH
  • Mahasiswa Menulis
  • OIF
  • Persyarikatan
  • PUSKIIBI
  • SAINS
  • SPs
  • SRCC
  • UKM
  • Uncategorized
  • UNIVERSITAS

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

About Us

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

  • Home
  • Universitas
  • Akademika
  • Lembaga
  • Persyarikatan
  • Artikel

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Universitas
  • Akademika
    • FAI
    • FAHUM
    • FEB
    • FISIP
    • FATEK
    • FAPERTA
    • FKIP
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • Lembaga
    • BPH
    • BIM
    • LBH
    • OIC
    • PPKI
    • OIF
    • CDAC
    • LPTQ
    • SRCC
    • PUSKIIBI
    • PUSBA
    • BPM
    • Halal Center
    • BIPA
    • UKM
  • Persyarikatan
  • Artikel
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
    • Alumni Menulis

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.