• BERANDA
  • UNIVERSITAS
  • AKADEMIKA
    • FAI
    • FISIP
    • FAPERTA
    • FAHUM
    • FEB
    • FKIP
    • FATEK
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • LEMBAGA
    • OIF
    • OIC
    • PUSKIIBI
    • SRCC
  • ARTIKEL
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
  • PERSYARIKATAN
  • GALERI
Thursday, September 10, 2026
  • Login
Cerdas UMSU
  • BERANDA
  • UNIVERSITAS
  • AKADEMIKA
    • FAI
    • FISIP
    • FAPERTA
    • FAHUM
    • FEB
    • FKIP
    • FATEK
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • LEMBAGA
    • OIF
    • OIC
    • PUSKIIBI
    • SRCC
  • ARTIKEL
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
  • PERSYARIKATAN
  • GALERI
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • UNIVERSITAS
  • AKADEMIKA
    • FAI
    • FISIP
    • FAPERTA
    • FAHUM
    • FEB
    • FKIP
    • FATEK
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • LEMBAGA
    • OIF
    • OIC
    • PUSKIIBI
    • SRCC
  • ARTIKEL
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
  • PERSYARIKATAN
  • GALERI
No Result
View All Result
Cerdas UMSU
No Result
View All Result
Home FATEK

Kiprah Dosen UMSU Rimbawati, Sulap Rongsokan dan Limbah Menjadi Energi untuk Warga Desa

by Admin Website
September 10, 2026
in FATEK
0
1
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

MEDAN — Bagi Rimbawati, menjadi dosen bukan sekadar menjalankan tugas mengajar di ruang kelas. Ada tanggung jawab yang lebih besar: memastikan ilmu pengetahuan yang dikembangkan di kampus dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Komitmen itu ia wujudkan melalui berbagai penelitian dan pengabdian di bidang energi baru dan terbarukan. Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini memilih jalan yang tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Baginya, benda bekas, aliran air, sinar matahari hingga limbah peternakan dapat menjadi sumber energi apabila diolah dengan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Salah satu inovasinya bahkan bermula dari sebuah motor induksi bekas seharga sekitar Rp200 ribu. Benda yang bagi sebagian orang mungkin dianggap rongsokan tersebut diubah menjadi generator untuk mendukung pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Dari tangan Rimbawati dan tim, berbagai sumber daya yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kemudian diubah menjadi energi alternatif yang membantu masyarakat, khususnya warga di pelosok desa yang memiliki keterbatasan akses listrik.

Dari Ruang Kelas hingga Pelosok Desa

Rimbawati telah mengabdikan diri sebagai dosen UMSU sejak 2004. Di Fakultas Teknik, ia mengampu sejumlah mata kuliah, di antaranya Analisa Sistem Tenaga, Energi Baru dan Terbarukan, serta Metode Penelitian.

Ketertarikannya terhadap energi baru dan terbarukan kemudian berkembang menjadi fokus penelitian. Ia menekuni sejumlah bidang, terutama pembangkit listrik tenaga mikrohidro, tenaga surya, dan biogas.

Konsistensinya di bidang tersebut turut mengantarkan Rimbawati dan tim memperoleh pendanaan hibah dari pemerintah sejak 2015 hingga saat ini.

Namun, bagi Rimbawati, keberhasilan penelitian bukan hanya diukur dari proposal yang didanai, publikasi, atau hasil yang diperoleh di laboratorium. Ukuran yang paling penting adalah ketika hasil penelitian tersebut benar-benar dapat digunakan masyarakat.

Salah satu kisah paling nyata bermula pada 2017. Saat itu, sekitar 30 kepala keluarga di Dusun Bintang Asih, Desa Rumah Sumbul, menghadapi persoalan mendasar: mereka belum memiliki akses listrik untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

Rimbawati bersama tim kemudian datang melihat langsung kondisi masyarakat. Dari persoalan tersebut lahirlah program kemandirian energi berbasis pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan memanfaatkan potensi aliran air di sekitar permukiman warga.Teknologi tersebut hingga kini masih berfungsi.

Rumah-rumah warga yang sebelumnya menjalani kehidupan tanpa penerangan listrik akhirnya memperoleh energi dari potensi alam yang tersedia di lingkungan mereka sendiri.

“Dampaknya, yang dulunya mereka tidak mengenal listrik, dari tahun 2017 sampai hari ini mereka sudah dapat mengenyam listrik dari hasil penelitian dan pengabdian yang kami lakukan,” tutur Rimbawati.

Bagi Rimbawati, kisah tersebut menjadi bukti bahwa penelitian perguruan tinggi dapat memiliki dampak panjang apabila dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Motor Bekas Rp200 Ribu Jadi Generator

Semangat menghadirkan teknologi yang terjangkau membuat Rimbawati tidak terpaku pada perangkat berharga mahal.Ia justru mencoba melihat kembali benda-benda yang tersedia di sekitar masyarakat.

Salah satunya motor induksi bekas yang diperoleh dengan harga sekitar Rp200 ribu. Dengan rekayasa dan pengetahuan di bidang teknik elektro, motor tersebut diubah menjadi generator yang kemudian dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

“Dengan harga yang relatif murah, hanya dua ratus ribu rupiah, kami melakukan inovasi dengan mengubah motor induksi tadi menjadi sebuah generator. Kemudian saya aplikasikan untuk membangun pembangkit listrik mikrohidro,” ujarnya.

Inovasi sederhana tersebut menyimpan pesan penting. Teknologi tepat guna tidak selalu identik dengan perangkat mahal. Kreativitas, ketelitian membaca kebutuhan dan kemampuan mengolah sumber daya yang tersedia dapat menjadi jalan untuk menghadirkan solusi.

Pengembangan di Dusun Bintang Asih kemudian diperkuat dengan sistem energi hibrida. Rimbawati dan tim menambahkan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 1.000 watt untuk membantu memperkuat pasokan energi masyarakat.

Aliran air dan cahaya matahari kemudian dipadukan menjadi sumber energi alternatif yang lebih sesuai dengan karakter lingkungan setempat.

Tenaga Surya Tekan Biaya Listrik hingga 80 Persen

Perjalanan Rimbawati dalam mengembangkan energi terbarukan tidak berhenti pada mikrohidro.Ia kemudian semakin serius mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Salah satu penerapannya dilakukan di kawasan wisata Desa Pematang Johar.

Sistem tenaga surya yang dirancang bersama tim memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional. Penggunaan energi matahari mampu menekan biaya listrik di kawasan wisata tersebut hingga 80 persen.

Bagi pengelola, penghematan itu bukan sekadar angka. Berkurangnya biaya energi berarti beban operasional dapat ditekan, sementara potensi sumber energi matahari di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan Rimbawati bahwa ilmu teknik memiliki ruang yang sangat luas untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Bidang-bidang teknik cenderung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Riset yang kita lakukan bisa langsung diimplementasikan kepada masyarakat,” katanya.

Kotoran Sapi sebagai Sumber Energi

Inovasi berikutnya membawa Rimbawati dan tim ke Desa Bekium, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat.Wilayah tersebut memiliki potensi peternakan sapi yang besar, dengan produksi sekitar 1.800 hingga 2.000 ekor sapi per tahun. Besarnya populasi ternak juga menghasilkan persoalan lingkungan.

Limbah kotoran sapi yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 18 ton setiap hari. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, termasuk pencemaran udara dan air.

Namun, Rimbawati melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda.Tumpukan kotoran sapi tidak hanya dilihat sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan baku energi terbarukan.

Melalui proyek percontohan pengembangan biogas, masyarakat diberikan edukasi untuk mengolah limbah peternakan menjadi sumber energi.

Gas yang dihasilkan dari proses tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan solusi terhadap persoalan limbah, tetapi juga berpeluang mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan energi.

“Nah, itu cara kami memberikan edukasi kepada masyarakat di Desa Bekium, bahwa limbah peternakan yang terbuang dan menjadi polusi udara maupun polusi air dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas bagi kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Di titik inilah konsep energi terbarukan yang dikembangkan Rimbawati memiliki dimensi yang lebih luas. Energi bukan hanya soal menghasilkan listrik, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri menjadi sumber daya yang bernilai.

Menuju Sistem Energi Terpadu di Pedesaan

Mikrohidro, tenaga surya dan biogas kini menjadi tiga bidang yang terus dikembangkan Rimbawati.Ketiganya memiliki karakteristik berbeda, tetapi justru dapat saling melengkapi. Aliran air dapat dimanfaatkan melalui mikrohidro.

Matahari dapat dikonversi menjadi energi melalui panel surya. Sementara limbah peternakan dan rumah tangga dapat diolah menjadi biogas.

Ke depan, Rimbawati memiliki cita-cita menggabungkan ketiganya dalam sebuah sistem energi terpadu yang dapat diterapkan di pedesaan.

“Semoga ke depan saya bisa mengolaborasikan mikrohidro, tenaga surya, dan biogas yang berasal dari limbah peternakan maupun limbah rumah tangga menjadi sebuah inovasi yang dapat digunakan masyarakat, khususnya di pedesaan,” harapnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan semangat membangun kemandirian energi masyarakat desa. Ketergantungan terhadap sumber energi dari luar dapat dikurangi dengan mengoptimalkan potensi alam dan sumber daya yang tersedia di lingkungan sendiri.

Dukungan UMSU dan Konsistensi Riset

Perjalanan panjang Rimbawati dalam penelitian dan pengabdian masyarakat tidak dilakukan seorang diri. Ia bekerja bersama tim serta mendapat dukungan dari UMSU. Menurutnya, dukungan perguruan tinggi mencakup berbagai aspek, mulai dari fasilitas, bantuan materi, laboratorium hingga kebutuhan administratif seperti surat keputusan, surat tugas dan berbagai dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian maupun pengabdian masyarakat.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan aktivitas akademik di lapangan. Bagi Rimbawati, seorang dosen, khususnya di bidang teknik, juga dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan.

Ia mendorong dosen agar menyediakan waktu setiap hari untuk membaca perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setidaknya dua hingga tiga jam sehari, menurutnya, perlu dialokasikan untuk membaca dan mengikuti perkembangan teknologi.

Namun, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti setiap inovasi harus menggunakan teknologi paling mahal dan paling modern. Justru sebaliknya, Rimbawati menunjukkan bahwa inovasi dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: motor induksi bekas, aliran air, cahaya matahari dan kotoran sapi.

Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan masyarakat, sesuatu yang sederhana dapat berubah menjadi solusi.

Dan bagi warga pelosok desa, solusi itu bukan sekadar teknologi.Ia bisa berarti cahaya di dalam rumah, penghematan biaya energi, lingkungan yang lebih bersih, sekaligus kesempatan untuk membangun kemandirian dari potensi yang mereka miliki sendiri.(*)

Tags: biogasdosen UMSUenergi terbarukanFakultas Teknik UMSUinovasi UMSUkemandirian energi desalistrik pedesaanmikrohidropenelitian UMSURimbawati UMSUteknologi tepat gunatenaga surya
Admin Website

Admin Website

Next Post
Mahasiswa Faperta UMSU Menembus Pengalaman Global, Ikuti PKL Internasional dan Student Mobility di Malaysia

Mahasiswa Faperta UMSU Menembus Pengalaman Global, Ikuti PKL Internasional dan Student Mobility di Malaysia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir

2 days ago
Rektor UMSU Lepas 19 Mahasiswa Menuju Ajang Nasional KKI, MTQ, dan Peksiminas 2026

Rektor UMSU Lepas 19 Mahasiswa Menuju Ajang Nasional KKI, MTQ, dan Peksiminas 2026

1 week ago

Popular News

  • Mahasiswa Faperta UMSU Menembus Pengalaman Global, Ikuti PKL Internasional dan Student Mobility di Malaysia

    Mahasiswa Faperta UMSU Menembus Pengalaman Global, Ikuti PKL Internasional dan Student Mobility di Malaysia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiprah Dosen UMSU Rimbawati, Sulap Rongsokan dan Limbah Menjadi Energi untuk Warga Desa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OIF UMSU Perkuat Kolaborasi Astronomi Islam Indonesia-Malaysia melalui International Islamic Astronomy Colloquium

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Tim Wirausaha Mahasiswa UMSU Lolos KMI Expo XVII 2026, Siap Bawa Inovasi ke Panggung Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Toba Team FT UMSU Melaju ke Nasional, Siap Buktikan Kemampuan di Kontes Kapal Indonesia 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

Cerdas UMSU

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • BERANDA
  • UNIVERSITAS
  • AKADEMIKA
  • LEMBAGA
  • ARTIKEL
  • PERSYARIKATAN
  • GALERI

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • UNIVERSITAS
  • AKADEMIKA
    • FAI
    • FISIP
    • FAPERTA
    • FAHUM
    • FEB
    • FKIP
    • FATEK
    • FIKTI
    • FKIK
    • SPs
  • LEMBAGA
    • OIF
    • OIC
    • PUSKIIBI
    • SRCC
  • ARTIKEL
    • Dosen Menulis
    • Mahasiswa Menulis
  • PERSYARIKATAN
  • GALERI

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.