MEDAN — Di balik toga yang dikenakan para wisudawan, ada pengorbanan panjang yang tidak selalu terucapkan. Ada ayah yang bekerja tanpa mengenal lelah, ibu yang tak pernah berhenti berdoa, serta keluarga yang terus memberikan dukungan hingga anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.
Pesan itulah yang ditekankan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Prof. Dr. Akrim, M.Pd., saat membuka sidang terbuka senat Wisuda Periode II Tahun 2026 hari kedua di Convention Hall Gedung Selecta, Medan, Rabu (28/10/2026).
Di hadapan 905 wisudawan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Agama Islam (FAI), dan Fakultas Hukum (FH), Prof Akrim mengingatkan bahwa keberhasilan meraih gelar akademik bukan semata-mata pencapaian pribadi. Ada banyak tangan yang ikut mengantarkan seseorang sampai pada titik tersebut.
Menurutnya, wisuda merupakan momen membahagiakan yang telah lama dinantikan, bukan hanya oleh mahasiswa, tetapi juga oleh keluarga yang mendampingi perjalanan pendidikan mereka.
Ia mengajak para lulusan untuk selalu mengingat orang-orang yang telah berkorban demi pendidikan mereka. Sebab, di balik keberhasilan yang dirayakan hari itu, terdapat perjuangan yang mungkin tidak pernah sepenuhnya diceritakan oleh orang tua.
Prof Akrim pun menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada UMSU. Ia berharap keberhasilan para lulusan menjadi kebahagiaan yang dikenang sepanjang hayat.
Namun, bagi Rektor UMSU, menerima ijazah bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan. Justru setelah wisuda, para lulusan akan menghadapi babak kehidupan baru yang menuntut kedewasaan, ketangguhan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.
Ia meyakini para alumni UMSU memiliki bekal untuk menghadapi dinamika dunia kerja karena selama menempuh pendidikan telah memperoleh kompetensi keilmuan, kewirausahaan, kebangsaan, keterampilan, serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Meski demikian, kompetensi tersebut tidak cukup hanya digunakan untuk mengejar keberhasilan pribadi. Ilmu harus mampu menjawab persoalan masyarakat dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Prof Akrim mengutip pemikiran tokoh dunia Nelson Mandela yang menyebut pendidikan sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Menurutnya, pesan tersebut relevan untuk direnungkan setiap lulusan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Pertanyaan penting yang harus dijawab para alumni, katanya, bukan hanya pekerjaan apa yang akan diperoleh atau seberapa tinggi kesejahteraan yang bisa dicapai, melainkan perubahan apa yang dapat mereka hadirkan melalui ilmu yang telah dipelajari.
Pendidikan, dalam pandangan Prof Akrim, tidak semestinya berhenti pada keberhasilan individu. Lebih dari itu, pendidikan harus melahirkan kemampuan menyelesaikan persoalan, membuka peluang bagi orang lain, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Pesan tersebut semakin relevan karena wisuda hari kedua UMSU berlangsung bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98, yang pada 2026 mengangkat tema “Patriotik Gigih Berempati Pemuda untuk Indonesia”.
Prof Akrim berharap semangat patriotisme, kegigihan, dan empati menjadi karakter yang melekat pada setiap lulusan. Patriotisme berarti mencintai bangsa dan negara serta bersedia berkontribusi bagi kemajuannya. Kegigihan dibutuhkan agar generasi muda tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan, sedangkan empati mendorong seseorang untuk memahami persoalan orang lain dan hadir memberikan manfaat.
Ia kemudian memberikan pesan khusus kepada lulusan dari masing-masing fakultas.
Kepada alumni Fakultas Agama Islam, Prof Akrim berharap ilmu keislaman yang diperoleh selama kuliah dapat dibawa ke tengah masyarakat untuk menumbuhkan pemahaman agama yang menyejukkan, memperkuat akhlak, menumbuhkan kepedulian, dan merawat persaudaraan.
Kepada lulusan Fakultas Hukum, ia mengingatkan pentingnya integritas dan keberanian dalam membela kebenaran. Masyarakat membutuhkan insan hukum yang tidak hanya memahami peraturan, tetapi juga menghormati hak serta martabat manusia dan berkomitmen menegakkan keadilan.
Sementara itu, para lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis diharapkan mampu mengembangkan kegiatan ekonomi yang produktif dan berdaya saing. Mereka didorong untuk tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga berani membangun usaha, menciptakan peluang, dan membuka lapangan pekerjaan.
Bagi Prof Akrim, semangat tersebut merupakan bagian dari identitas lulusan UMSU yang unggul, cerdas, dan terpercaya. Identitas itu harus dibuktikan melalui kompetensi, integritas, prestasi, serta semangat juang yang tidak mudah padam.
Wisuda hari kedua diikuti 905 lulusan, terdiri atas 483 lulusan FEB, 230 lulusan FAI, dan 192 lulusan FH. Mereka merupakan bagian dari 2.657 lulusan UMSU pada Wisuda Periode II Tahun 2026 yang diselenggarakan selama tiga hari.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UMSU juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen, tenaga kependidikan, panitia wisuda, dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan pendidikan. Ia menegaskan bahwa capaian mahasiswa dan alumni merupakan hasil kolaborasi sivitas akademika, dukungan keluarga, serta kepercayaan masyarakat.
Berbagai prestasi mahasiswa UMSU dari Fakultas Hukum, Fakultas Agama Islam, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis turut ditampilkan dalam prosesi wisuda. Prestasi tingkat nasional dan internasional itu menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dan berkompetisi.
Di akhir pesannya, Prof Akrim berharap para alumni menjadi generasi yang membanggakan keluarga, mengharumkan nama UMSU, serta ikut membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa gelar akademik bukan sekadar simbol keberhasilan. Nilai sesungguhnya dari pendidikan akan terlihat ketika ilmu yang diperoleh mampu mengubah kehidupan, membantu sesama, dan meninggalkan manfaat bagi masyarakat.(Foto: Wira)









