MEDAN – Sebuah kota bukan sekadar kumpulan bangunan atau tempat yang dikunjungi. Dalam puisi, kota dapat menjelma menjadi ruang ingatan, pengalaman, dan refleksi kehidupan. Gagasan tersebut mengemuka dalam bedah buku kumpulan puisi Sebuah Kota Sebuah Umpama karya sastrawan nasional Ubaidillah Al Anshori di Toko Gramedia Medan, Sabtu (10/10/2026).
Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Yulhasni, S.S., M.Si., hadir sebagai pembicara untuk mengupas kekuatan bahasa dan makna dalam karya penyair yang akrab disapa Ubai tersebut.
Menurut Yulhasni, kepiawaian Ubai terlihat dari kemampuannya memainkan kata benda dan kata kerja untuk membangun pengalaman puitis. Kata benda menjadi penanda waktu, ingatan, dan tempat, sedangkan kata kerja menggerakkan cerita serta menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masa kini.
“Kata benda memberi puisi pijakan, kata kerja memberinya arah. Penyair yang matang tahu kapan harus menahan dan kapan harus menggerakkan,” ujar Yulhasni.
Ia juga menguraikan lima cara Ubai memaknai tempat dalam puisinya, yakni sebagai pengalaman yang dirasakan dari dalam, ingatan yang berlapis, perumpamaan tentang kehidupan, ruang yang menuntut sikap, serta sesuatu yang rapuh dan tidak selalu indah.
Salah satu contoh terlihat dalam puisi “doa-doa batang hari”, ketika sungai tidak sekadar menjadi lanskap, tetapi hadir sebagai pengalaman yang menyatu dengan tubuh, napas, dan ingatan manusia.
Yulhasni juga menyoroti ilustrasi karya Imam Teguh pada halaman 77 yang menampilkan rumah panggung dengan jendela terlepas. Menurutnya, gambaran tersebut menunjukkan bahwa tempat tidak selalu ditampilkan melalui keindahan, tetapi juga melalui kerentanan dan perubahan.
Selain Yulhasni, bedah buku yang menjadi bagian dari agenda Semesta Buku Gramedia Medan ini menghadirkan sastrawan Sumatera Utara Hasan Al Banna dan Titan Sadewo.
Hasan Al Banna mengungkapkan, Ubai banyak belajar dari para sastrawan Sumatera Barat. Perjalanan panjang dalam dunia sastra turut membentuk kepenyairannya hingga dikenal sebagai sastrawan nasional.
Wakil Dekan III FKIP UMSU, Assoc. Prof. Dr. Mandra Saragih, menilai keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan tersebut penting untuk memperkaya wawasan kesastraan sekaligus memperkuat budaya literasi. Menurutnya, pembelajaran bahasa dan sastra tidak cukup hanya berlangsung di ruang kuliah, tetapi juga perlu diperluas melalui perjumpaan langsung dengan karya, sastrawan, dan komunitas literasi.
Ia mengapresiasi kiprah KOPI SUHI yang terus mendorong mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan sastra dan literasi.
“Kita mendukung sekali kegiatan KOPI SUHI,” kata Mandra.
Ubai sendiri merupakan alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU. Titan Sadewo, yang juga menjadi pembicara, merupakan alumnus program studi yang sama.
Kegiatan tersebut dihadiri puluhan mahasiswa dan masyarakat umum. Diskusi ini menjadi ruang apresiasi sastra sekaligus memperlihatkan bagaimana puisi dapat menghidupkan ingatan, menghadirkan pengalaman, dan mengajak pembaca memaknai kembali hubungan manusia dengan tempat serta kehidupannya.(*)










