MEDAN – Sekitar 700 mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FH UMSU) mengikuti rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di halaman Kampus Utama UMSU, Senin (28/9/2026).
Bukan sekadar seremoni penyambutan, PKKMB menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk memahami bahwa memasuki perguruan tinggi berarti memasuki fase kehidupan yang berbeda. Status sebagai mahasiswa membawa kebebasan sekaligus tanggung jawab yang lebih besar dalam menentukan arah pendidikan dan masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Dekan FH UMSU, Assoc. Prof. Dr. Zainuddin, S.H., M.H., saat memberikan sambutan di hadapan ratusan mahasiswa baru Fakultas Hukum UMSU.Pada kesempatan itu, Zainuddin memperkenalkan jajaran pimpinan FH UMSU, di antaranya Wakil Dekan I Dr. Benito Asdhie Kodiyat S.H M.H serta Wakil Dekan III Assoc. Prof. Dr. Atikah Rahmi, S.H M.H.
Selain itu, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan para kepala bagian, kepala laboratorium, Kepala Tata Usaha beserta jajaran yang akan mendukung proses pendidikan mereka selama menempuh studi di FH UMSU.
Di hadapan mahasiswa baru, Zainuddin mengawali pesannya dengan mengajak mereka mensyukuri kesempatan yang telah diperoleh untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Adik-adik sekalian, saya ingin tekankan kepada kalian bahwa hari ini harus bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kenapa? Karena seperti yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kalian tidak salah memilih kampus,” ujarnya.
Menurut Zainuddin, pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke FH UMSU merupakan sebuah kesempatan yang tidak dimiliki oleh seluruh lulusan SMA atau sederajat. Banyak anak seusia mereka yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan, namun tidak seluruhnya memiliki kesempatan dan kemampuan untuk duduk di bangku perguruan tinggi.
“Kalian semua punya kemauan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi juga punya kemampuan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Kemampuan itu banyak hal, bukan hanya soal kemauan dan semangat, tetapi faktor ekonomi juga amat sangat menentukan,” katanya.

Karena itu, rasa syukur, menurut Zainuddin, tidak cukup hanya diucapkan melalui kata alhamdulillah. Rasa syukur harus diwujudkan melalui sikap, perilaku, semangat belajar, serta kesungguhan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Ia kemudian mengingatkan mahasiswa baru bahwa terdapat perbedaan mendasar antara siswa dan mahasiswa. Jika ketika masih duduk di bangku sekolah pengawasan terhadap proses belajar relatif lebih banyak dilakukan oleh guru dan orang tua, maka di perguruan tinggi mahasiswa dituntut memiliki kemandirian.
“Jangan menjadi mahasiswa yang datang, duduk, lalu pulang. Kalian harus aktif di kampus dan harus kritis di kampus. Tidak boleh datang dari kos, masuk kampus, lalu ke kantin,” tegasnya.
Menurutnya, perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa harus diikuti perubahan cara berpikir, berbicara, berpakaian, bergaul, dan mengambil keputusan.
“Kalian hari ini sudah naik derajat. Kemarin siswa, saat ini sudah menjadi mahasiswa. Status itu harus mampu memberikan perbedaan dari teman-teman kalian yang dulu sama-sama duduk di bangku SLTA, tetapi tidak memiliki kesempatan atau kemampuan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” ungkapnya.
Zainuddin meminta mahasiswa baru menunjukkan perubahan tersebut sejak awal perkuliahan. Ketika nantinya bertemu kembali dengan teman-teman semasa SMA, mereka harus mampu menunjukkan bahwa pengalaman menjadi mahasiswa telah membentuk karakter dan pola pikir yang lebih dewasa.Ia juga mengingatkan mahasiswa yang berasal dari luar Kota Medan agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Karena itu, saya selalu tekankan kepada mahasiswa perantauan, hati-hati dalam memilih pergaulan,” pesannya.
Zainuddin mengaku sebagai pimpinan fakultas dirinya kerap berhadapan dengan persoalan mahasiswa yang harus mengundurkan diri atau berhenti kuliah karena berbagai faktor. Karena itu, ia meminta mahasiswa baru tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan untuk menempuh pendidikan tinggi.
Di sisi lain, Zainuddin juga meminta mahasiswa meluruskan niat sejak awal. Menurutnya, kuliah bukan sekadar kesempatan untuk meninggalkan kampung halaman, tinggal di Kota Medan, atau terbebas dari pengawasan orang tua.
“Luruskan niat kalian kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Allah akan mewujudkan cita-cita kalian sesuai dengan doa dan usaha kalian. Semuanya bergantung kepada kalian,” katanya.
Pesan tersebut kemudian diarahkan pada pentingnya mahasiswa memiliki target pendidikan yang jelas. Zainuddin mendorong mahasiswa FH UMSU sejak hari pertama perkuliahan sudah menetapkan target kapan mereka harus menyelesaikan pendidikan.
“Pasang schedule waktu. Tulis, saya mulai hari ini kuliah di Fakultas Hukum, maka target saya tiga tahun delapan bulan atau paling lama empat tahun saya harus mendapatkan gelar sarjana. Itu dulu buat target kalian,” ujarnya.
Menurut Zainuddin, target tersebut harus diikuti dengan kedisiplinan. Mahasiswa perlu mampu menentukan prioritas dan tidak mudah mengalihkan perhatian dari tujuan utama mereka.
“Ketika kalian datang dari rumah mau ke kampus, tiba-tiba singgah di kantin, pikirkan kembali tujuan utama kalian. Kalau itu yang kalian lakukan, maka belum tentu target yang sudah kalian tetapkan bisa tercapai,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk membangun keseimbangan antara prestasi akademik dan pengalaman organisasi. Dari pengalamannya sebagai mahasiswa, Zainuddin menyebut terdapat setidaknya tiga bentuk kesuksesan yang perlu diperjuangkan, yakni sukses akademik, sukses organisasi, dan sukses pribadi.
“Paling tidak dua hal ini dulu yang kalian tanamkan, sukses akademik dan sukses organisasi. Sukses pribadi nanti dulu,” ujarnya.
Untuk urusan akademik, ia meminta mahasiswa tidak hanya mengejar kelulusan, tetapi juga membangun prestasi dan kemampuan intelektual. Sementara pengalaman organisasi dinilai penting untuk membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, serta keberanian mengambil keputusan.
Ia juga membagikan pengalaman ketika dirinya masih menjadi mahasiswa. Menurut Zainuddin, ketika pertama kali memasuki perguruan tinggi, dirinya juga pernah duduk sebagai mahasiswa baru dan memiliki kekaguman terhadap para senior maupun pimpinan fakultas.
Pengalaman itu kemudian menjadi motivasi untuk menetapkan target dalam kehidupannya.“Selama saya kuliah, dua hal itu sudah saya alami. Akademik, alhamdulillah, indeks prestasi kumulatif saya baik. Kemudian sukses pribadi juga saya jalani dalam kehidupan,” ungkapnya.
Menutup sambutannya, Zainuddin kembali mengingatkan mahasiswa baru FH UMSU bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas kampus, dosen, maupun lingkungan akademik, tetapi sangat bergantung pada kesungguhan mahasiswa dalam menjalani proses.
“Semakin banyak kalian berkeringat dalam hidup ini, maka semakin sedikit kalian berdarah dalam kehidupan kalian. Berkeringatlah untuk mencari ilmu pengetahuan agar ketika pengetahuan itu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, kalian bisa menjalankannya sesuai dengan apa yang kalian cita-citakan,” pesannya.
Bagi sekitar 700 mahasiswa baru FH UMSU yang mengikuti PKKMB 2026, hari itu bukan sekadar menjadi awal mengenal lingkungan fakultas. Hari tersebut menjadi titik awal perubahan status, dari siswa menjadi mahasiswa, sekaligus awal perjalanan panjang untuk meraih gelar sarjana hukum dan membangun masa depan.
Di kampus inilah mereka akan belajar membaca hukum, memahami keadilan, mengasah keberanian berpikir kritis, berorganisasi, membangun jaringan, sekaligus belajar bertanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil sendiri.(*)









