MEDAN – Sebanyak 56 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FKIK UMSU) resmi mengikuti yudisium dan pengangkatan janji dokter muda angkatan ke-34. Momentum ini menjadi penanda dimulainya tahapan penting bagi para lulusan untuk menapaki pendidikan profesi kedokteran sebelum terjun sepenuhnya ke dunia pelayanan medis.
Kegiatan berlangsung di Auditorium Kampus FKIK UMSU, Jalan Gedung Arca No. 53, Teladan, Medan, Jumat (25/9). Prosesi tersebut tidak hanya menjadi perayaan atas capaian akademik para mahasiswa, tetapi juga menjadi pengingat tentang tanggung jawab besar yang akan diemban seorang calon dokter.
Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd yang diwakili Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Pendidikan, Pengajaran, dan Digitalisasi, Assoc. Prof. Dr. Marah Doly Nasution, M.Si, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh dokter muda yang telah menyelesaikan tahapan pendidikan akademik.
Dalam pesannya, Marah Doly menekankan bahwa perkembangan dunia kedokteran berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi. Karena itu, calon dokter tidak cukup hanya memiliki kompetensi klinis, tetapi juga perlu memahami perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Di era digital, kuatkan kompetensi kedokteran serta penguasaan teknologi digital maupun kecerdasan buatan (AI), dan senantiasa membingkai ilmu dengan nilai-nilai ibadah dan spiritual. Jagalah standar kualitas dan integritas UMSU di wahana pendidikan maupun rumah sakit jejaring,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi para dokter muda yang akan menjalani pendidikan profesi dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. Kemampuan menguasai ilmu kedokteran perlu berjalan bersama karakter, etika, integritas, serta nilai-nilai kemanusiaan dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Dekan FKIK UMSU Dr. Siti Masliana Siregar, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Rino.(K), menjelaskan bahwa pengangkatan janji dokter muda bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan pintu masuk menuju fase pendidikan profesi yang penuh tantangan.
Menurutnya, para dokter muda akan menjalani pendidikan profesi selama 1 tahun 10 bulan melalui berbagai rotasi di departemen dan rumah sakit jejaring. Tahapan tersebut dirancang untuk membentuk kemampuan dan pengalaman klinis sehingga lulusan memiliki kompetensi sebagai dokter umum.
“Ini adalah langkah awal pendidikan profesi yang akan dijalani selama 1 tahun 10 bulan melalui rotasi di departemen dan rumah sakit jejaring. Tujuan utama dari pendidikan tahap profesi adalah mencapai kompetensi sebagai dokter umum yang siap pakai,” kata Siti Masliana.
Ia mengingatkan para dokter muda agar memanfaatkan setiap tahapan pendidikan profesi sebagai ruang untuk memperkuat pengetahuan sekaligus membangun sikap profesional. Menurutnya, keberhasilan menjadi dokter tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh integritas dan etika ketika berhadapan dengan pasien maupun sesama tenaga kesehatan.
“Fokuslah pada persiapan kelulusan UKMPPD. Pendidikan profesi harus dimanfaatkan secara efektif untuk belajar. Selain itu, jaga integritas dan etika kepada sejawat, dosen pendidik klinis, perawat, serta utamakan komunikasi yang efektif dan beretika kepada pasien,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Basarnas Sumatera Utara Heri Marantika, S.H., M.Si, yang turut memberikan apresiasi, menyoroti pentingnya pengalaman para dokter muda dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan dan kebencanaan.
Menurut Heri, kerja sama antara Basarnas Sumatera Utara dan FKIK UMSU telah memberikan ruang bagi dokter muda untuk memperoleh pengalaman melalui berbagai kegiatan, termasuk stase Disaster Management, pelatihan Tim Bantuan Medis (TBM), hingga penanganan kondisi darurat akibat bencana.
“Kami mengucapkan terima kasih atas sinergi dan kerja sama antara Basarnas dengan dokter muda, khususnya dalam stase Disaster Management, pelatihan Tim Bantuan Medis (TBM), dan penanganan kondisi darurat bencana. Harapan kami, sinergi ini terus diperkuat dan memberikan bekal nyata bagi pelayanan masyarakat,” ujar Heri.
Keterlibatan mitra rumah sakit dan lembaga terkait dalam pendidikan dokter muda menjadi bagian penting dari proses pembentukan kompetensi klinis. Para mahasiswa tidak hanya belajar dari teori dan pembelajaran di ruang akademik, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di lingkungan pelayanan kesehatan.
Turut hadir Wakil Dekan I FKIK UMSU Dr. Rahmanita Sinaga, M.Ked(OG), Sp.OG, serta perwakilan mitra dan wahana pendidikan rumah sakit jejaring, di antaranya Rumkital Dr. Komang Makes/Rumah Sakit Putri Hijau, Rumah Sakit Bhayangkara, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Drs. H. Amri Tambunan/RSUD Aji Medan.
Hadir pula para orang tua dan wali mahasiswa, jajaran pimpinan fakultas, serta sivitas akademika UMSU.Bagi 56 dokter muda angkatan ke-34, prosesi yudisium dan pengangkatan janji tersebut menjadi titik awal untuk memasuki perjalanan panjang pendidikan profesi. Di hadapan para pendidik, mitra pendidikan, keluarga, dan sivitas akademika, mereka membawa satu tanggung jawab yang sama: mengubah pengetahuan kedokteran menjadi kompetensi, dan kompetensi menjadi pelayanan yang berintegritas bagi masyarakat.
FKIK UMSU melalui pendidikan profesinya terus mendorong lahirnya calon dokter yang tidak hanya memiliki kemampuan medis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, menjunjung etika profesi, serta menempatkan nilai kemanusiaan dan spiritualitas sebagai bagian penting dalam menjalankan pengabdian sebagai tenaga kesehatan.(*)









