MALAYSIA — Pendidikan bukan hanya tentang memperluas pengetahuan, tetapi juga tentang membangun lingkungan yang aman, saling menghargai, dan bebas dari perundungan. Pesan itulah yang dibawa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FH UMSU) melalui KKN Internasional di Malaysia.
Salah satu rangkaian kegiatan KKN Internasional FH UMSU tersebut diwujudkan melalui Kelas Social Anti-Bullying di Pusat Pengajian Darul Hadis, Pulau Pinang. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 santri dan menjadi ruang edukasi sekaligus dialog mengenai bahaya bullying di lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Wakil Dekan III FH UMSU, Dr. Atikah Rahmi, S.H., M.H., hadir sebagai narasumber. Di hadapan para santri, ia mengajak peserta mengenali berbagai bentuk perundungan, memahami dampaknya terhadap korban, serta membangun keberanian untuk mencegah dan menghentikan tindakan tersebut.
Menurut Atikah, persoalan bullying tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan individu. Pencegahannya membutuhkan kepedulian bersama antara peserta didik, pendidik, keluarga, dan lingkungan sosial.
“Pencegahan bullying harus dimulai dari kesadaran untuk saling menghargai, menghormati perbedaan, serta membangun keberanian untuk tidak membiarkan tindakan perundungan terjadi di lingkungan kita,” ujar Dr. Atikah Rahmi.
Bagi mahasiswa FH UMSU yang mengikuti KKN Internasional, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pengabdian. Mereka mendapatkan pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan pendidikan di Malaysia.
Pengalaman itu menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Pengetahuan yang selama ini diperoleh di ruang kuliah diuji dan diterapkan dalam kehidupan sosial yang nyata, dengan karakter masyarakat dan lingkungan pendidikan yang berbeda.
Kelas Social Anti-Bullying sekaligus memperlihatkan bahwa pengabdian mahasiswa hukum tidak selalu harus berbicara tentang pasal dan aturan. Ada nilai kemanusiaan yang juga perlu ditanamkan, terutama kesadaran untuk menghormati martabat dan hak setiap orang.
Melalui KKN Internasional, FH UMSU berupaya memperluas pengalaman mahasiswa sekaligus menghadirkan kontribusi positif di tengah masyarakat. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, memahami perbedaan budaya, serta memiliki kepedulian sosial menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia yang semakin terbuka.
Kehadiran dosen dan mahasiswa FH UMSU di Pusat Pengajian Darul Hadis Pulau Pinang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik dan sosial antara Indonesia dan Malaysia.
Dari sebuah kelas sederhana tentang anti bullying, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan pengetahuan. Mereka juga belajar satu hal yang lebih mendasar: bahwa pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak mampu menciptakan ruang yang aman bagi setiap manusia untuk tumbuh dan dihargai.(*)




